Renungan tentang Wabah Penyakit & Penyebarannya
Oleh: Dr. Abdul Bari bin Awwadh Ats-Tsubaiti
Imam dan Khatib Masjid Nabawi
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلهِ، الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي سَمَا الْكَوْنُ بذِكْرِهِ، أَحْمَدُهُ -سُبْحَانَهُ- عَلَى وَاسِعِ حِلْمِهِ وَفَضْلِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، الْقَائِلُ: (وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ) [الْإِسْرَاءِ: 44]، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدِنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَخِيرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ:
فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، الَّتِي هِيَ أَعْظَمُ مَقَامَاتِ الإِيْمَانِ، وَسَفِيْنَةُ النَّجَاةِ فِي الدَّارَيْنِ، قَالَ اللهُ -تَعَالَى-: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) [آلِ عِمْرَانَ: 102].
Al Hamdulillâh. Segala puji bagi Allah yang membuat semesta mulia dengan dzikir kepada-Nya. Aku memuji Allah yang Maha Suci atas kemurahan hati dan karunia-Nya yang luas. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, yang berfirman, "Dan tidak ada sesuatu apapun kecuali bertasbih memuji-Nya." (Qs. Al Isrâ` [17]: 44) Aku juga bersaksi bahwa Junjungan dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, serta manusia pilihan dari makhluk-Nya. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada beliau, keluarga beliau dan para sahabat. Ammâ ba'd:
Aku berwasiat kepada Anda dan diri khathib sendiri agar bertakwa kepada Allah yang merupakan maqâm iman yang paling agung dan bahtera penyelamat dunia-akhirat. Allah yang Maha Tinggi berfirman, "Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu sekali-kali mati kecuali dalam keadaan memeluk Islam." (Qs. Âli Imrân [3]: 102)
Wahai kaum muslimin!
Allah Subhânahû wa Ta'âla menciptakan hidup dan membuat kondisi manusia berubah-ubah, antara sehat dan sakit, sejahtera dan menderita, senang dan sedih, bahagia dan terancam, sebagai ujian kepada hamba-hamba-Nya.
Allah Subhânahû wa Ta'âla berfirman,
(تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [1] الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ [2]) [الْمُلْكِ: 1-2].
"Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik amal perbuatannya, sedang Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Qs. Al Mulk [67]: 1-2)
Sakit adalah Sunnatullâh yang berlaku dalam kehidupan manusia. Allah Subhânahû wa Ta'âla menimpa hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan menjauhkannya dari siapa yang dikehendaki-Nya pula. Dia juga mengetahui segala jenis penyakit, penyebabnya, hakekat dan awal kemunculannya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
(إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ) [الْقَمَرِ: 49]
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran." (Qs. Al Qamar [54]: 49)
Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبُكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ.
"Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak untuk menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak untuk hilang darimu." (HR. Ahmad)
Allah Azza wa Jalla adalah Dzat yang mendatangkan marabahaya dan manfaat, Yang memberi nikmat dan Yang menahan pemberian, di tangan-Nyalah takdir penyakit, dari-Nyalah kesembuhan. Allah Subhânahû wa Ta'âla berfirman ketika menceritakan Nabi Ibrahim Alaihissalâm,
(وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ) [الشُّعَرَاءِ: 80]
"Dan bila aku sakit, maka Dialah (Allah) yang menyembuhkanku." (Qs. Asy-Syu'arâ` [26]: 80)
Itu semua terjadi karena hikmah tertentu dan di balik itu ada kenikmatan tersendiri. Sebab nilai suatu nikmat baru akan disadari ketika telah mengalami hal yang tidak menyenangkan. Dengan penyakit, nilai sehat dan selamat baru disadari. Setinggi apapun tingkat sosial seseorang, sedalam apapun ilmunya, dan sehebat apapun ilmu pengobatannya, pasti mengalami sakit. Buktinya, manusia-manusia termulia dan para Nabi pun sakit, bahkan para dokter sendiri tak luput darinya.
Aisyah Radhiyallâhu Anha berkata,
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَشَدَّ عَلَيْهِ الْوَجَعُ مِنْ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.
"Aku belum pernah melihat seorang pun yang sakitnya lebih berat dari sakit Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam."
Ibnu Mas'ud Radhiyallâhu Anhu berkata,
دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَهُوَ يُوعَكُ، يَتَأَلَّمُ مِنَ الْحُمَّى.
"Aku pernah menemui Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam di saat beliau sakit, sedang merintih kesakitan karena demam."
Salah satu bentuk rahmat dan besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah, Dia menciptakan penawar atau obat bagi semua jenis penyakit, dan membuat sebab kesembuhan bagi setiap gangguan. Hal itu hanya disadari oleh orang yang mengetahuinya, dan tidak disadari oleh orang yang tidak mengetahuinya.
Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda,
مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءٌ.
"Allah tidak menurunkan satu penyakit kecuali Dia menurunkan penyembuhnya." (HR. Al Bukhari)
Hadits ini menganjurkan (umat Islam) agar berusaha mengobati penyakit atau gangguan phisikis yang dialaminya. Karena Allah Subhânahû wa Ta'âla telah menurunkan obat-obatan di permukaan bumi dan semesta alam. Ada obat yang rahasianya ditemukan di dalam air, disarikan dari makanan, diambil dari tumbuh-tumbuhan, dan dibuat dari racun makhluk hidup. Bahkan obat bisa ditemukan di semua tempat. Itu semua Allah Subhânahû wa Ta'âla mudahkan sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya, karena Dia mengetahui kelemahan dan kebutuhan mereka terhadap-Nya.
Islam menganjurkan umatnya agar mempelajari penyakit dan obat-obatan. Islam pun memosisikan ilmu kedokteran sebagai ilmu termulia setelah ilmu syariat. Sebab dengan ilmu kodekteran, hidup manusia bisa terselamatkan dan kesehatan bisa dipulihkan kembali.
Imam Asy-Syafi'i Rahimahullâh berkata,
إِنَّمَا الْعِلْمُ عِلْمَانِ، عِلْمُ الدِّينِ وَعِلْمُ الدُّنْيَا، فَالْعِلْمُ الَّذِي لِلدِّينِ هُوَ الْفِقْهُ، وَالْعِلْمُ الَّذِي لِلدُّنْيَا هُوَ الطِّبُّ.
"Ilmu sejatinya ada dua: (1) Ilmu agama; dan (2) ilmu duniawi. Ilmu yang terkait dengan agama adalah ilmu fikih, sedangkan ilmu yang terkait dengan duniawi adalah ilmu kodekteran."
Imam Asy-Syafi'i Rahimahullâh juga berkata,
لاَ أَعْلَمُ عِلْمًا بَعْدَ الْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ أَنْبَلَ مِنَ الطِّبِّ.
"Aku tidak mengetahui ada ilmu setelah Halal dan Haram (ilmu fikih) yang lebih mulia daripada ilmu kedokteran."
Meskipun manusia telah berupaya untuk melakukan semua upaya di bidang kedokteran dan mengembangkan fasilitas pengobatan, tetap saja belum mampu menyembuhkan semua penyakit yang muncul. Ketidakberdayaan manusia ini terlihat ketika makhluk terkecil (kuman; mikroba; virus) masuk di tengah-tengah kehidupan mereka dan bersarang di tubuh mereka hingga tersebarlah wabah penyakit mematikan.
Allah Subhânahû wa Ta'âla berfirman,
(وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَ يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ) [الْحَجِّ: 73].
"Dan bila lalat merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak mampu merebutnya kembali dari lalat tersebut. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lembah pula yang disembah." (Qs. Al Hajj [22]: 73)
Bersamaan dengan munculnya wabah penyakit secara tiba-tiba dan begitu cepatnya wabah tersebut merenggut nyawa banyak orang, ini menegaskan betapa lemahnya manusia, betapa kurangnya ilmu manusia, dan betapa terbatasnya kemampuan yang dimilikinya, sebesar dan sehebat apapun kekuatan yang telah dimilikinya.
Allah Subhânahû wa Ta'âla berfirman,
(وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا) [النِّسَاءِ: 28]
"Dan manusia diciptakaan dalam keadaan lemah." (Qs. An-Nisâ` [4]: 28)
Hal ini harusnya memoitvasi manusia untuk menenangkan diri dan membuatnya tunduk kepada sang Penciptanya dengan tobat dan inâbah.
Penyebaran wabah penyakit menjadi masalah besar yang perlu disikapi dengan tawakkal kepada Allah, berdoa kepada Rabbnya agar selamat, dan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan upaya pencegahan. Terkait hal ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهَا.
"Bila kamu mendengar wabah penyakit menyerang satu daerah, maka jangan datangi tempat tersebut; dan jika wabah penyakit terjadi di satu daerah sementara kamu beradi di daerah tersebut, maka jangan keluar melarikan diri darinya." (HR. Ahmad)
Saat wabah penyakit tersebar di satu tempat, seorang Muslim harus beriman kepada qadha dan qadar Allah, berpikiran positif terhadap Rabbnya dan menunjukkan adab yang baik kepada sang Penciptanya; tidak boleh menggerutu dan tidak boleh marah. Bahkan dijalani dengan sabar serta menganggap penyakit sebagai ujian Tuhan dan karunia besar bagi hamba.
Suatu ketika Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam datang menemui Ummu As-Sa`ib atau Umma Al Musayyib Radhiyallâhu Anha, lalu bertanya,
مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ؟ أَوْ يَا أمَّ الْمُسَيِّبِ تُزَفْزِفِينَ؟ قَالَتْ: الحُمَّى لاَ بَارَكَ اللهُ فِيهَا. فقال: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى؛ فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.
"Ada apa denganmu hai Ummu As-Sa`ib?" Atau "Mengapa engkau menggigil hai Ummu As-Sa`ib?" Umma As-Sa`ib menjawab, "Karena demam, semoga Allah tidak memberkahi demam." Mendengar itu beliau bersabda, "Jangan engkau mencaci demam, karena ia sebenarnya menghapus kesalahan-kesalahan keturunan Adam (manusia), seperti halnya ubupan menghilangkan kotoran besir." (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.
"Tidaklah seorang muslim mengalami musibah, keletihan, kegelisahan, kesedihan, gangguan dan kekalutan hingga duri yang menusuk dirinya melainkan Allah menghapus dengan itu kesalahan-kesalahannya." (HR. Al Bukhari)
Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
لاَ يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوِ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلِدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيْئَةٍ.
"Musibah senantiasa menimpa Mukmin dan Mukminah, baik pada tubuhnya, hartanya atau anaknya, hingga Dia bertemu Allah tanpa membawa satu kesalahan pun." (HR. Ahmad)
Kondisi sakit bisa menjadi motivasi bagi hamba untuk kembali kepada Tuhannya. Terkait hal ini Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
(فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ) [الْأَنْعَامِ: 42]
"Kemudian Kami siksa mereka dengan menimpakan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri." (Qs. Al An'âm [6]: 42)
Berapa banyak penyakit yang memunculkan sumber-sumber kebaikan dalam kalbu penderitanya, serta menggerakkan lisannya untuk berdzikir, memuji dan bertasbih. Penyakit juga mampu membersihkan diri hamba dari sifat sombong dan angkuh, melahirkan ketundukan dalam jiwa, memenuhi hati dengan sikap tawadhu dan merendahkan diri. Kalau bukan karena cobaan dunia dan musibah, seseorang sudah pasti terkena penyakit sombong, ujub dan keras hati yang menjadi penyebab kehancuran dirinya.
Musibah yang menyebabkan diri Anda kembali kepada Allah lebih baik daripada nikmat yang membuat Anda lupa berdzikir kepada Allah. Ketika seorang Muslim melihat malapetaka dan wabah penyakit menjangkiti orang lain, baik individu maupun masyarakat, maka ia seyogyanya meminta kepada Allah Subhânahû wa Ta'âla agar diselamatkan dari musibah yang sedang menimpa mereka, dan memuji-Nya atas kesehatan yang dinikmatinya.
Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda,
مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا، لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ.
"Siapa yang melihat seseorang mengalami musibah, lalu ia membaca doa, 'Al Hamdulillâhilladzî âfânî mimmabtalâka bihî wa fadhdhalanî alâ kastîrin mimman khlaqa tafdhîlâ (segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu, dan memberikan karunia lebih kepadaku dari kebanyakan makhluk-Nya', maka musibah itu tidak mengenai dirinya." (HR. At-Tirmidzi)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,
سَلُوا اللهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْيَقِيْنَ فِي الآخِرَةِ وَالْأُوْلَى.
"Mintalah ampunan, keselamatan dan keyakinan di akhirat dan di dunia." (HR. Ahmad)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Semoga Allah Ta'ala memberkahi aku dan Anda dengan Al Qur`an yang agung. Aku cukupkan khutbahku sampai di sini dan memohon ampun kepada Allah, maka mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ، تَفَرَّدَ بِالْجَلَالِ وَالْجَمَالِ وَالْكَمَالِ، أَحْمَدُهُ -سُبْحَانَهُ- وَأَشْكُرُهُ فِي الْحَالِ وَالْمآلِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْكَبِيرُ الْمُتَعَالُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمًّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، هَدَاهُ اللهُ كَرِيمَ الْخِصَالِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، صَلاَةً نَنَالُ ثَوَابَها فِي يَوْمٍ لاَ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خِلاَلٌ. أَمَّا بَعْدُ:
فَأُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ.
Segala puji bagi Allah Dzat yang tunggal dengan kebesaran, keindahan dan kesempurnaan. Aku memuji Allah yang Maha Suci dan bersyukur kepada-Nya untuk saat ini dan yang akan datang. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Aku juga bersaksi bahwa Junjungan dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang ditunjuki oleh Allah perilaku mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada beliau, keluarga beliau dan para sahabat, rahmat yang dengannya kita memperoleh balasannya di hari tidak ada perniagaan dan tidak pula persaudaraan. Ammâ ba'd:
Aku berwasiat kepada Anda dan diri khathib sendiri agar bertakwa kepada Allah. Dengan mencermati perubahan kondisi manusia dan berbagai problematika dunia, seorang Muslim akan selalu mengingat kenikmatan abadi dan balasan surga yang tidak pernah dihinggapi penyakit, kegelisahan dan hal buruk. Terkait hal ini Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda,
يُنَادِي مُنَادٍ: إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوْا فَلاَ تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلاَ تَمُوتُوْا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلاَ تَهْرُمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلاَ تَبْأَسُوا أَبًدًا. فَذَلِكَ قَوْلُهُ -عَزَّ وَجَلَّ-: (وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ) [الْأَعْرَافِ: 43].
"Seorang penyeru akan berteriak (pada Hari Kiamat), 'Sungguh balasan bagi kalian di dalam surga adalah selalu sehat dan tidak sakit selamanya; sungguh balasan bagi kalian di dalam surga adalah terus hidup an tidak mati selamanya; sungguh balasan bagi kalian di dalam surga adalah selalu muda dan tidak menua selamanya; dan sungguh balasan bagi kalian di dalam surga adalah merasakan nikmat dan tidak pernah sengsara selamanya'. Itulah makna firman Allah Azza wa Jalla, 'Dan diserukan kepada mereka: Itulah surga yang kamu warisi karena apa yang telah kamu lakukan'." (Qs. Al A'râf [7]: 43) [HR. Muslim]
Wahai hamba Allah!
أَلاَ وَصَلُّوْا عَلَى رَسُوْلِ الْهُدَى، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِذَلِكَ فِي كِتَابِهِ، فَقَالَ: (إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) [الأحزاب: ٥٦].
Bacalah shalawat kepada Rasul Al Hudâ, karena Allah telah memerintahkan Anda untuk melakukan perintah tersebut dalam Kitab-Nya, lalu Dia berfirman, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salâm penghormatan kepadanya." (Qs. Al Ahzâb [33]: 56)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, isteri-isteri beliau dan keturunan beliau, sebagaimana yang Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad, isteri-isteri beliau dan keturunan beliau, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الأَرْبَعَةِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ الآلِ وَالصَّحْبِ الْكِرَامِ، وَعنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya Allah, ridhailah keempat Khulafa Ar-Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Ridhailah keluarga Nabi dan para sahabat yang mulia. Ridhai pula kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahahan hati, dan kebaikan-Mu, wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.
اللَّهُمَّ أعَزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أعَزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أعَزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الْكُفْرَ وَالْكَافِريْنَ، وَدَمِّرِ اللَّهُمَّ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam. Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam. Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, serta hinakanlah kekafiran dan orang-orang kafir. Ya Allah, hancurkanlah musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh agama. Ya Allah, jadikanlah negeri ini dan seluruh negeri umat Islam aman dan tentram.
اللهم مَنْ أَرَادَانَا وَأَرَادَ بِلاَدَنَا وَأَرَادَ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ بِسُوْءٍ فَأَشْغِلْهُ بِنَفْسِهِ، وَاجْعَلْ تَدْبِيْرَهُ تَدْمِيْرَهُ يَا سَمِيْعَ الدُّعَاءِ.
Ya Allah, sibukkanlah orang yang menginginkan keburukan pada kami, negeri kami, Islam dan umat Islam dengan dirinya sendiri, dan jadikanlah rencananya berbalik menyerang dirinya, wahai Yang Maha Mendengar doa.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.
Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu surga dan apa saja yang membuat kami dekat kepadanya, baik tutur maupun laku. Kami juga berlindung kepada-Mu dari api neraka, dan apa saja yang membuat kami dekat kepadanya, baik tutur maupun laku.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.
Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan dan yang ditangguhkan, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Kami juga berlindung kepada-Mu dari semua keburukan yang disegerakan dan yang ditangguhkan, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi kesucian urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat hidup kami, perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembal kami, dan jadikanlah hidup ini sebagai ladang segala kebaikan bagi kami, serta kematian sebagai peristirahatan bagi kami dari segala keburukan, wahai Tuhan semesta alam.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فَوَاتِحَ الْخَيْرِ وَخَوَاتِمَهُ وَجَوَامِعَهِ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَظَاهِرَهُ وَبَاطِنَهُ، وَنَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى مِنَ الْجَنَّةِ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu pembuka kebaikan, penutup kebaikan, inti kebaikan, awal kebaikan, akhir kebaikan, kebaikan yang terlihat dan yang tidak terlihat. Kami juga meminta kepada-Mu tingkat tertinggi dari surga, wahai Tuhan semesta alam.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلاَ تُعِنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلاَ تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَلاَ تَمْكُرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرِ الْهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا.
Ya Allah, selamatkanlah kami dan janganlah Engkau mencelakakan kami, bantulah kami dan janganlah Engkau membinasakan kami, rekaperdayalah untuk kami dan janganlah Engkau memperdayai kami, tunjukilah jalan kepada kami, mudahkanlah petunjuk bagi kami, serta tolonglah kami melawan orang yang menindas kami.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ شَاكِرِيْنَ، لَكَ مُخْبِتِيْنَ، لَكَ أَوَّاهِيْنَ مُنِيْبِيْنَ.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa berdzikir, bersyukur, tunduk, mengeluh dan kembali hanya kepada-Mu.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ قُلُوْبِنَا.
Ya Allah, terimalah pertobatan kami, basuhlah kesalahan kami, teguhkanlah hujjah kami, luruskanlah lisan kami, dan enyahkanlah kedengkian hati kami.
اللَّهُمَّ إِنَكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا، وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf mencintai maaf, maka maafkanlah kesalahan kami. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, yang akan datang, yang tersembunyi, yang terlihat, dan yang Engkau lebih mengetahuinya daripada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Terdahulu dan Engkau Maha Terakhir, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَائَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari nikmat-Mu yang hilang, ampunan-Mu yang berubah, siksaan-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari seluruh murka-Mu.
اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ، وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepengecutan, kebakhilan, kerentaan, ketidakmampuan melunasi utang dan dominasi manusia.
اللهم ارْحَمْ مَوْتَانَا وَاشْفِ مَرْضَانَا وَتَوَلَّ أَمْرَنَا، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Ya Allah, rahmatilah yang telah meninggal dari kami, sembuhkanlah yang sakit dari kami dan tolonglah urusan kami, wahai Tuhan semesta alam.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا خَادِمَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيْفَيْنِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، اللَّهُمَّ وَفِّقْهُ لِهُدَاكَ، وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ عَهْدِهِ لِكُلِّ خَيْرٍ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، وَوَفِّقْ جَمِيْعَ وُلاَةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَتَحْكِيْمِ شَرْعِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya Allah, bimbinglah pemimpin kami Khadimul Haramain untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai. Ya Allah, bimbinglah pemimpin kami kepada petunjuk-Mu dan jadikanlah amal perbuatannya dalam keridhaan-Mu, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, bimbinglah pula putra mahkotanya untuk melakukan setiap kebaikan, wahai Tuhan semesta alam, dan bimbing pula semua pemimpin umat Islam untuk mengamalkan Kitab-Mu dan menjalankan syariat-Mu, wahai Dzat yang paling mengasihi dari semua yang mengasihi.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ يَا اللهُ بِأَنَّكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ، لاَ سُقْيَا عَذَابٍ، وَلاَ بَلاَءٍ، وَلاَ غَرَقٍ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya Allah, sesungguhnya kami meminta dari-Mu bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau Maha Kaya sedang kami fakir. Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, hujanilah kami. Ya Allah, hujanilah kami. Ya Allah, turunkanlah hujan yang membawa rahmat, bukan hujan yang membawa siksaan, bala, dan banjir, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.
(رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) [الأعراف: ٢٣]
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (Qs. Al A'râf [7]: 23)
(رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ) [الحشر: ١٠]
"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Qs. Al Hasyr [59]: 10)
(رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) [البقرة: ٢٠١]
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka." (Qs. Al Baqarah [2]: 201)
Hamba Allah!
(إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) [النحل: ٩٠]
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. Allah juga melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (Qs. An-Nahl [16]: 90)
فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، (وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ) [الْعَنْكَبُوتِ: 45].
Ingatlah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia niscaya Dia akan selalu mengingat Anda. Bersyukurlah atas nikmat-nikmat-Nya niscaya Dia akan menambahkannya. "Dan, sungguh mengingat Allah (shalat) adalah ibadah yang paling agung dari ibadah-ibadah lainnya, dan Allah mengetahui apa yang Anda lakukan." (Qs. Al Ankabût [29]: 45)
Beri komentar